“Hentikan
bermain api di tengah kayu kering. Karena airmata akan susah untuk menghentikan
api itu merubahnya menjadi abu”
Satu, dua kali coba bertahan dalam keadaan ini.
Hal epic yang telah kualami, selalu
ingin segera kulenyapkan. Aku tak ingin meninggalkan
masa lalu, tapi aku ingin masa lalu hidup bersamaku menangkap masa depan. Kamu
bukan Tuhan Yang Maha membolak balik hati. Bukan tugasmu untuk ikut campur
dalam masalah hati lain. Cukup hidupi masalalumu, penuhi hatimu.
Tapi,
meskipun otak ini udah nge-judge bahwa kamu hanya manusia yang tak pandai memegang hati, hati
ini seakan gak pernah mau terima dengan judgement seperti itu. Hati ini selalu
melihatmu dari sisi yang mungkin nggak bisa dilihat oleh orang lain. Ada
kacamata khusus sehingga hati ini bisa bicara sebaliknya. Lihatlah mata ini,
mataku menatap ke arah hatimu. Jika hari
ini memang belom waktunya untuk hatimu berbicara, protect hatiku agar tak bisa melihat hati –
hati yang lain. Protect hatiku agar selalu yakin terhadap satu hati milikmu.
Tangisanku bukan untukmu, hanya tangisanku yang
kutunjukkan pada Tuhan, agar masa depanmu dan masa depanku memiliki tujuan yang
sama. Nyanyian doa – doa selalu terdengar untuk kita. Keluarga kita.
Meskipun begitu aku tak pernah paham apa arti air mata ini. Semua
akan sia – sia jika hanya tangis yang beruarai, tapi hati tak akan pernah
berhenti untuk menghembus nafas – nafas cinta ini. Kayu kering nantinya akan
lapuk, saat api itu tergantikan oleh air.
Saat kamu merasa sudah sangat kuat untuk menghancurkan hati yang telah
berantakan ini, buktikan hatimu juga kuat menerima kenyataan saat dirimu
merasakan hal yang sama sepertiku.
Apa kamu tau awan mendung itu?
Begitulah hari – hariku. Ketika kamu datang membawakan kabar mentari itu akan muncul dihadapanku, namun
entah kenapa mentari itu sembunyi di balik peraduan malam. Suasana terang yang
tiba – tiba berubah menjadi gelap. Tak bisakah kamu menengok dengan sebelah
matamu. Aku disini. Bukan untuk menantikanmu, aku disini untuk melihat hatimu
dan hatiku bersatu.
Hangat nafasmu detikan jantungmu tak dapat lagi kurasakan. Apa
semua itu hanya kepura-puraan yang kau berikan untuk menjatuhkan hatiku? Untuk
memenuhi UGD dengan orang – orang yang hatinya mengalami kelainan sepertiku?
Untuk melihat pak polisi menangkap penjahat – penjahat sepertimu?
apalah semua itu, biarkan menjadi sesuatu yang selalu menemani doa doaku.
apalah semua itu, biarkan menjadi sesuatu yang selalu menemani doa doaku.











