Kamis, 03 Oktober 2013

“Hentikan bermain api di tengah kayu kering. Karena airmata akan susah untuk menghentikan api itu merubahnya menjadi abu”



Satu, dua kali coba bertahan dalam keadaan ini. Hal epic yang telah  kualami, selalu ingin segera  kulenyapkan. Aku tak ingin meninggalkan masa lalu, tapi aku ingin masa lalu hidup bersamaku menangkap masa depan. Kamu bukan Tuhan Yang Maha membolak balik hati. Bukan tugasmu untuk ikut campur dalam masalah hati lain. Cukup hidupi masalalumu, penuhi hatimu.
 Tapi, meskipun otak ini udah nge-judge bahwa kamu hanya  manusia yang tak pandai memegang hati, hati ini seakan gak pernah mau terima dengan judgement seperti itu. Hati ini selalu melihatmu dari sisi yang mungkin nggak bisa dilihat oleh orang lain. Ada kacamata khusus sehingga hati ini bisa bicara sebaliknya. Lihatlah mata ini, mataku menatap ke arah hatimu.  Jika hari ini memang belom waktunya untuk hatimu berbicara,  protect hatiku agar tak bisa melihat hati – hati yang lain. Protect hatiku agar selalu yakin terhadap satu hati milikmu.
Tangisanku bukan untukmu, hanya tangisanku yang kutunjukkan pada Tuhan, agar masa depanmu dan masa depanku memiliki tujuan yang sama. Nyanyian doa – doa selalu terdengar untuk kita. Keluarga kita.
          Meskipun begitu aku tak pernah paham apa arti air mata ini. Semua akan sia – sia jika hanya tangis yang beruarai, tapi hati tak akan pernah berhenti untuk menghembus nafas – nafas cinta ini. Kayu kering nantinya akan lapuk, saat api itu tergantikan oleh air.  Saat kamu merasa sudah sangat kuat untuk menghancurkan hati yang telah berantakan ini, buktikan hatimu juga kuat menerima kenyataan saat dirimu merasakan hal yang sama sepertiku.
           
Apa kamu tau awan mendung itu?
Begitulah hari – hariku. Ketika kamu datang membawakan kabar  mentari itu akan muncul dihadapanku, namun entah kenapa mentari itu sembunyi di balik peraduan malam. Suasana terang yang tiba – tiba berubah menjadi gelap. Tak bisakah kamu menengok dengan sebelah matamu. Aku disini. Bukan untuk menantikanmu, aku disini untuk melihat hatimu dan hatiku bersatu.
Hangat nafasmu detikan jantungmu tak dapat lagi kurasakan. Apa semua itu hanya kepura-puraan yang kau berikan untuk menjatuhkan hatiku? Untuk memenuhi UGD dengan orang – orang yang hatinya mengalami kelainan sepertiku? Untuk melihat pak polisi menangkap penjahat – penjahat sepertimu?
apalah semua itu, biarkan  menjadi sesuatu yang selalu menemani doa doaku.
          

Tidak ada komentar:

Posting Komentar